SATUAN BRIGADE MOBIL POLDA SUMBAR

LAKSANAKAN TUGAS, TUNTASKAN MISI

Sejarah Sat Brimob Polda Sumatera Barat

2I. Cikal Bakal Sat Brimob Polda Sumatera Barat

A. Sekolah Polisi Istimewa

Sejak awal tahun 1946, bersamaan dengan dipindahkannya Markas Kepolisian Daerah Sumatera Barat dari Padang ke Bukit Tinggi, Komisaris Polisi II Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa mengemukakan pembentukan Polisi Istimewa berdasarkan Skep KKN No. 12/78/91/1946. Maka sejak tanggal 18 Mei 1946 di Kota sejuk ini diresmikan Sekolah Polisi Istimewa dengan Kampusnya terletak di Birugo (Kompleks SMU 2 Bukit Tinggi sekarang) dan beliau diangkat menjadi Direktur Sekolahnya, yang dikukuhkan dengan Surat Residen Sumatera Barat No. : R/78/P2 tanggal 15 Juni 1946.

Pada Acara Peresmian Sekolah Polisi Istimewa ini, Komisaris Polisi II Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa menetapkan maksud dan tujuan Pendidikan Sekolah Polisi Istimewa, sebagai berikut :

  1. Polisi istimewa Negara Republik Indonesia, khusus dipandang sebagai garis depan Polisi Sumatera Barat.
  2. Dan merupakan Korps yang Mobil dari Polisi Negara Republik Indonesia di Sumatera Barat yang bergerak cepat, bila diperlukan penugasannya juga dapat diluar tempat kedudukan kesatuannya.
  3. Bertanggung jawab untuk ketertiban dan keamanan dimasa damai dan ikut serta berjuang dimasa perang.

Adinegoro yang mewakili sebagai Pemerintah untuk Sumatera, menegaskan bahwa Polisi Istimewa sebagai Pasukan Pelopor patut berpenampilan penuh gaya.

Sekolah Polisi Istimewa melaksanakan pendidikan yang berlangsung selama 3 (tiga) bulan dan pada tanggal 17 Agustus 1946 dilantik sebanyak 10 personil Pembantu Inspektur dan 134 personil Agen Polisi.

Dalam penugasannya ternyata Polisi Istimewa ini lebih mudah beradaptasi dengan masyarakat dibanding Polisi tiga jaman sebelumnya. Lulusan Sekolah Polisi Istimewa awalnya banyak ditugaskan di Padang, namun kemudian disebar keberbagai tempat, kelak mereka bergabung dalam apa yang disebut Barisan Istimewa Polisi (BIP).

B. Barisan Istimewa Polisi (BIP)

BIP dibentuk pada bulan September 1946 di Bukit Tinggi, Polisi yang tergabung didalamnya di Asramakan, ini dimaksud agar penempaan dan latihan lebih terkonsentrasi dan terarah. Khususnya dalam penggunaan beragam persenjataan.

Tugas yang diemban oleh BIP ; Mengatasi kerusuhan, memulihkan keadaan bila ada kekacauan, mengawasi lalu lintas barang dan orang. Satuan-satuan BIP ini ditempatkan di Sijunjung, Tanjung Simalidu, Bangkinang, Danau Bingkuang, Pariaman, serta perbatasan dengan Sumatera Utara.

Karena tugas BIP yang tidak ringan diperlukan yang memadai, sementara persenjataan di Sumatera Barat tidak mencukupi, maka harus dicari ke daerha lain. Pada saat itu diperoleh informasi oleh Kepala Polisi Sumatera Barat bahwa Tapanuli Selatan menyimpan senjata eks Jepang yang akan dijual oleh Residen, meski rakyat setempat tidak menghendaki, maka ditugaskan Komisaris Polisi II Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa bersama Dewan Polisi Sumatera Barat beserta empat orang Agen Polisi berangkat ke Sibolga untuk membelinya. Rombongan disambut dengan suka cita oleh Residen Tapanuli Selatan DR. F. Lumbantobing, dan senjata yang dibeli sejumlah 66 pucuk US.Caraben, 3 pucuk Senapan Mesin beserta amunisi juga sejumlah Granat Tangan.

Penambahan senjata ini melengkapi persenjataan BIP di Bukit Tinggi, hal ini menaikkan moril anggota dalam pengaplikasian tugas, dan ditegaskan oleh Residen Mr. Rasyid untuk tidak adanya keraguan dalam pencapaian tujuan pendidikan Polisi Istimewa, sebagai Organisasi Semi Militer dibawah Pimpinan Komisaris Polisi II Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa.

C. Mobile Brigade (Mobrig)

Pada tanggal 1 Agustus 1947, nama BIP diganti dengan Mobiele Brigade (Mobrig). Anggota Mobrig direkrut dari mantan anggota BIP ditambah dari Polisi Tugas Umum dan lascar rakyat yang fisiknya mengijinkan.

Mobrig yang merupakan pasukan khusus itu, langsung dibawah kendali Kepala Polisi Keresidenan Sumatera Barat. . Sejak Januari 1947 hingga tahun 1950, Komandan Mobrig Sumatera Barat adalah Inspektur Polisi I Amir Machmud. Ketangguhan Pasukan Mobrig ini dalam perang gerilya, terbukti selama Agresi Militer II Belanda.

Setelah Agresi Militer Belanda II berakhir, dibentuklah Koordinator-Koordinator Mobrig, termasuk di Sumatera Barat yang terbagi menjadi 3 (tiga) Koordinator Mobrig, yaitu:

a. Koordinator Mobil Brigade Bukit Tinggi
b. Koordinator Mobil Brigade Solok
c. Koordinator Mobil Brigade Padang Panjang

Pada tahun 1951, nama ” Koordinator ” dirubah menjadi ” Kompi ”.

II. MOBRIG DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

A. Pengamanan Wakil Presiden

Pada awal Juni 1947 Wakil Presiden Republik Indonesia Bung Hatta atas undangan KNI (Komite Nasional Indonesia) Sumatera, berangkat dari Yogyakarta dengan rombongan berjumlah besar, inilah kunjungan pertama Wakil Presiden Republik Indonesia ke Sumatera dan selama keberadaannya di Sumatera (Juni 1947 s/d Februari 1948) Wakil Presiden menetap di Rumah Tamu Agung kemudian dikenal dengan Gedung Negara Tri Arga ( Istana Bung Hatta sekarang ), selain sebagai kediaman, gedung ini juga dipakai sebagai Istana Wakil Presiden RI di Bukittinggi dari sinilah beliau memimpin perjuangan, di Sumatera pada umumnya di Sumatera Barat pada khususnya.

Dengan dilancarkannya Agresi Militer I oleh Belanda, di Sumatera Barat ketegangan semakin meningkat. Dengan sasaran terbatas yaitu memperluas daerah kedudukan Belanda dari Padang Luar kota sampai ke Tapakis dekat Lubuk Alung. Selama 7 bulan Wakil Presiden RI berada di Bukittinggi, Kepolisian RI mendapat kehormatan sebagai Pasukan Pengawal Wakil Presiden. Waktu itu kesatuan Mobrig Sumatera Barat dibawah pimpinan Inspektur Polisi II Mandagi K.Situmorang.

B. Pengkhianatan Perjanjian Linggarjati oleh Belanda

Pada tanggal 21 Juli 1947 Agresi Militer Belanda I yang merupakan pengkhianatan Belanda atas Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani pada tanggal 15 November 1946, pasukan Belanda ingin menduduki kota-kota penting di Republik Indonesia. Pada saat itu kebencian rakyat Indonesia terhadap Belanda memang semakin memuncak, apalagi melihat gelagat tentara Belanda yang berambisi besar sekali untuk kembali bercokol dibumi pertiwi. Maka pada tanggal 25 Juli 1947 dengan taktik perang gerilya Pasukan Mobrig yang bermarkas di Padang dibawah pimpinan Inspektur I Basri Bakar bergabung dengan Batalyon Kuranji Pimpinan Mayor Achmad Husein beserta kekuatan laskar rakyat memporak porandakan Konvoi Militer Belanda di Lubuk Peraku, dalam pertempuran itu ada juga tentara dan Mobrig kita yang terluka.

C. Menjaga Batas Renville / Insiden Tapakis

Para pimpinan di Sumatera yang terpusat di Bukittinggi sudah memperkirakan akan meletusnya kembali peperangan dan Belanda akan mengkhianati Perjanjian Renville yang disahkan pada tanggal 17 Januari 1948, yang kemudian dikenal dengan Agresi Militer Belanda II. Pada hari Sabtu pukul 23.30 Wib tanggal 18 Desember 1948, Wakil Walikota Tinggi Belanda telah menyatakan bahwa Belanda tidak lagi terkait dengan perjanjian Renville, pada malam yang sama sebuah Pesawat Jenis Mustang meraung raung diatas Kota Bukittinggi, dengan menjatuhkan selembaran pamphlet. Pergerakan Agresi Belanda II, yaitu:

1. Menyusuri Jalan Raya Padang-Kayutanam seterusnya Via Lembah Anai Formasi tempur dengan perlengkapan Tank baja menerobos ke Padang Panjang dan selanjutnya menuju Bukittinggi.
2. Dengan menggunakan Pesawat Cathalina dan mendaratkannya diperairan Danau Singkarak.
3. Kedaulatan Garis Renville Indarung di Front Timur dan seterusnya Via Batu Batupang menuju Solok, Belanda dapat bergerak dengan cepat tanpa mendapat perlawanan yang berarti sehingga berhasil menduduki Kota Solok.

Dalam organisasi Kepolisian Sumatera Tengah, Pasukan Mobrig Sumatera Barat dengan Personil 234 orang. Mobrig merupakan salah satu kekuatan inti yang menjadi garis terdepan pada 3 Front sesuai Perjanjian Renville, Front Utara bermarkas di Sicincin, satuan – satuan Mobrig ditempatkan di Batang Tapakis, Ringan-ringan Sintuk, Toboh Baru sedangkan di Front Selatan bermarkas di Painan, yang bertugas disekitar Siguntur, Pasar Sungai Durian. Pasukan Belanda dikirim ke Utara Via Lubuk Alung dan Kayu Tanam mendapat rintangan di Front Tapakis, tempat dimana satuan Mobrig memfloting sejumlah pasukan penjaga batas Perjanjian Renville untuk memperingatkan tentara Belanda untuk tidak melewati perbatasan.

Namun sebagai jawabannya Belanda menyerang pasukan Mobrig yang ada di Tapakis, terjadilah pertempuran tidak seimbang. Dalam pertempuran ini gugur dua orang prajurit terbaik Mobrig sebagai Pahlawan Bangsa, yaitu: Agen Polisi Baharuddin dan Agen Polisi M. Nur. Kedua Pahlawan Mobrig ini dimakamkan ditempat terjadinya pertempuran, tepatnya di Desa Tapakis, Lubuk Alung, Padang Pariaman. Sebagai penghargaan dan untuk mendoakan, mengenang serta meneladani jasa kedua pahlawan bangsa tersebut pada setiap HUT Brimob tanggal 14 November selalu diadakan ziarah kepemakaman Tapakis.

D. Pertempuran Palupuh

Kesatuan tempur yang mempertahankan Front Palupuh yang terdiri dari Pasukan Mobrig, Brigade Polisi yang merupakan kesatuan antara Mobrig Sumatera Tengah, Sumatera Barat dan Polisi Tugas Umum dibawah komando Kepala Kepolisian Sumatera Tengah PKBP Soelaiman Efendi, berkekuatan 400 personil, terdiri dari pasukan yang pindah dari Bukittinggi, ditambah pasukan Mobrig dari Front Tapakis Lubuk Alung, Batu Taba, Padang Panjang, Ladang Padi / Air Sirah dan Siguntur Muda berkumpul dengan induk pasukan
di daerah Palupuh. Untuk mencapai daerah Palupuh Pasukan Mobrig harus melewati rintangan, dimana Belanda sudah menguasai daerah Padang Panjang, Solok, Payakumbuh, Batusangkar. Melalui hutan jalan solusi terbaik untuk ditempuh, terkadang terpaksa ambil resiko melintasi Wilayah Patroli pasukan Belanda.

Hari Rabu pada tanggal 22 Desember 1948 Belanda yang berkedudukan di Padang Panjang menyerang Kota Bukittinggi, karena tidak ada perlawanan Belanda ingin menghancurkan Bonjol. Dalam perjalanan menuju Bonjol Belanda dihadang pasukan Mobrig yang membangun pertahanan di Daerah Palupuh, yang bertugas membendung gerak laju pasukan Belanda.

Pada hari Jumat 24 Desember 1948 telah terjadi pertempuran sengit antara pasukan Mobrig dengan Belanda selama 1 jam. Dengan menggunakan 1 buah Panser dan 3 buah truk Belanda merebut pertahanan Pasukan Republik. Pasukan Mobrig dibawah komando Inspektur Polisi Tk I Amir Machmud dan Inspektur Polisi Tk I Raden Yusuf yang bergabung dengan TNI dan Tentara Pelajar.

Diantara tentara pelajar yang tergabung dalam pertempuran ini seorang pemuda bernama Awaluddin Djamin, yang akhirnya pernah menjabat Kapolri yang VIII (1978-1982) serta Adrian Kahar anak dari Komisaris Polisi Kaharudin Dt. Rangkayo Basa yang pernah menjabat Panglima Daerah Kepolisian Sumatera Barat dari tanggal 17 Mei 1958 sampai 17 Agustus 1965, dengan berbekal senjata seadanya, antara lain jenis Bren MK 3, US. Caaraben, Hamburg MSG, Lee & Field 7,7 dan Granat tangan, bertahan menghadapi Belanda. Bunyi rentetan senjata antara dua belah pihak membelah Batang Palupuh, dengan medan perbukitan, posisi pasukan Mobrig jauh lebih menguntungkan, dengan mudah musuh kelihatan. Tentara Belanda berloncatan keluar truk dan merayap dijalan menghadapi penghadangan ini.

Dalam pertempuran sengit ini 10 orang tentara Belanda gugur, posisi Belanda tidak menguntungkan, mereka terdesak dan menambah jumlah pasukannya dari Bukittinggi. Disinilah seorang prajurit terbaik Mobrig gugur dengan membawa kebanggaan kecintaan tanah air dan bangsa, ia adalah Agen Polisi Achmad Loge dikenal dengan kenekadtannya. Sebagai penghargaan atas jasa dan pengorbanan beliau oleh PKBP Soelaiman Effendi selaku Kepala Daerah Kepolisian Sumatera Tengah dibangun Monument Perjuangan Mobrig di Palupuh.

Monument tersebut mulai dibangun tanggal 26 Juli 1949 dan diresmikan pada HUT RI ke 4 tanggal 17 Agustus 1949 oleh Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Tengah PKBP Soelaiman Effendi. Kemudian Monumen Palupuh mengalami pemugaran tahun 1982 dan diresmikan oleh Kapolri Jenderal Polisi Awaluddin Djamin, MPA pada tanggal 13 Agustus 1982.

E. Pemberontakkan PRRI

Pada tahun 1985 sampai 1961 di Sumatera Tengah pecah pemberontakkan PRRI, dibawah Komando Dewan Banteng yang dipimpin oleh Kolonel Achmad Husein yang berkedudukan di Padang.

Pasukan Mobrig dalam situasi ini dalam kebimbangan, berpihak kepada PRRI atau tetap membela NKRI. Hal ini membuat kegiatan Mobrig menjadi vakum (konsolidasi). Pemerintahan pusat mengirimkan pasukan yang namanya APRI ke Sumatera Tengah untuk memadamkan pemberontakan PRRI yang juga disertakan Pasukan Mobrig yang berasal dari Jawa Tengah.

Dalam situasi perang pada tahun 1961, PRRI kembali kepangkuan Ibu Pertiwi, menyerah dan masuk NKRI. Mobrig yang BKO dari Jawa Tengah sebagian dimutasi menjadi Organik Mobrig Sumatera Tengah.

III. SAT BRIMOBDA SUMBAR

A. Brigade Mobil (Brimob)
Pada tanggal 12 Agustus 1961 nama ”MOBRIG” diganti menjadi ”BRIMOB” dikuatkan dengan Surat Kepala Kepolisian Negara, SKKN No.Pol.: 1/9/3/TB tanggal 14 November 1961. Berdasarkan Keputusan Presiden RI, Keppres Nomor : 591/1961 tanggal 13 Agustus 1961 Presiden Republik Indonesia Ir.Soekarno selaku Irup menyerahkan Pataka kepada
Brimob “NUGRAHA SAKANTIYANA UTAMA” pada Upacara dilaksanakan di Lapangan Banteng, Jakarta.

B. Resimen – VI Sumbar – Riau
Kemudian secara Nasional Brimob di Validasi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Panglima Angkatan Kepolisian No. Pol. : 32 / SK / MK / 65 Reorganisasi Mabes KBM di Wilayah Sumbar – Riau menjadi Resimen – VI dan Dhuaja Resimen – VI saat ini masih dalam keadaan baik sekarang berada di Mako Sat Brimobda Sumatera Barat sekarang (di Padang Sarai ). Markas Komando Resimen berkedudukan di Padang sebagai Komandan Resimen
AKBP. Soedarmadji. Resimen – VI ini terdiri dari 3 Batalyon, 1 Kompi Persiapan RECON dan Detasemen Pendidikan dan Latihan ( DEPLAT 003) Sukarami (Solok), yaitu :

1. Yon – 634 Kinantan

Nama “ KINANTAN “ adalah ayam putih yang kokoknya sangat merdu sekali dan petarung yang unggul dan tidak pernah terkalahkan. Sayangnya Tunggul Batalyon – 634 Kinantan pada saat ini tidak diketahui keberadaannya. Batalyon ini berkedudukan di Padang, sebagai Pejabat Komandan Batalyon adalah Komisaris Polisi. Drs. Abdul Jabar, yang membawahi 3 Kompi, sebagai berikut :

a. Kompi – A, berkedudukan di Alai, Kota Padang.
b. Kompi – B, berkedudukan di Rimbo Kaluang, Kota Padang
c. Kompi – C, berkedudukan di Sukarami, Kabupaten Solok

2. Yon – 618 Gumarang
Nama “ GUMARANG “ diambil dari nama seekor kuda putih yang sangat patuh, larinya sangat kencang tidak ada jurang yang dalam dan tidak ada bukit yang tinggi dan bertuah dizaman kerajaan Pagaruyung. Tunggul Batalyon – 618 Gumarang pada saat ini tersimpan dengan baik di Mako Detasemen – B Brimob Polda Sumbar di Kota Padang Panjang. Batalyon ini berkedudukan di Bukittinggi, sebagai Pejabat Komandan Batalyon adalah Komisaris Polisi. R. Soemali yang membawahi 3 Kompi sebagai berikut:
a. Kompi – A, berkedudukan di Silaing Atas, Padang Panjang.
b. Kompi – B, berkedudukan di Birugo, Bukittinggi.
c. Kompi – C, berkedudukan di Silaing Bawah, Padang Panjang.

3. Yon – 619 Sibinuang

Nama “ SIBINUANG “ diambil dari nama seekor kerbau yang sangat setia dan sakti mandraguna, dileher dan diekornya bergantungan lebah. Tunggul Batalyon – 619 Sibinuang juga sampai saat ini juga tidak diketahui keberadaannya. Batalyon ini berkedudukan di Pekanbaru Riau sebagai pejabat Komandan Batalyon adalah Komisaris Polisi Rukmin Achmad. Batalyon – 619 membawahi 3 Kompi yaitu :

a. Kompi – A, berkedudukan di Sukajadi, Pekan Baru , Riau
b. Kompi – B, berkedudukan di Tanjung Batu, Pekan Baru, riau
c. Kompi – C, berkedudukan di Taleju, Pekan Baru, Riau

4. Kompi Persiapan Recon

Berkedudukan di Marapalam Kota Padang, sebagai pejabat Komandan Kompi Persiapan Recon adalah Aiptu. R. Gardea. Ks.

5. Detasemen Pendidikan dan Latihan – 003 Brimob Sukarami Kabupaten Solok.

Deplat – 003 Brimob Sukarami Kabupaten Solok adalah Lembaga Pendidikan Tamtama Brimob , Sekolah Bhayangkara Negara (SEBHARA). Dari tahun 1963 sampai tahun 1972 telah meluluskan 5 (lima) letting Tamtama Brimob. Yang menjabat selaku Komandan Deplat – 003 Sukarami Kabupaten Solok adalah AKP K.L Panjaitan. Deplat – 003 Brimob Sukarami Solok ditutup tahun 1973 dan dipindahkan ke Dodiklat Padang Besi (Sekarang SPN Padang Besi).
Satu-satunya mantan siswa di Deplat – 003 ini terakhir pensiun di Sat Brimob Polda Sumatera Barat Komisaris Polisi Fifti Nofris, beliau terakhir menjabat sebagai Wakasat Brimob Polda Sumbar, TMT 1 Januari 1971 Tamtama Brimob dan Purnawirawan 31 Januari 2008.
Nama – nama Batalyon tersebut diambil dari cerita rakyat Minangkabau konon pada zaman Kerajaan Pagaruyung ada seorang pemuka keturunan raja yang gagah berani dan sakti mandraguna bernama Cindurmato. Ia mempunyai tiga binatang peliharaan yang sakti membantunya memberantas kejahatan di Kerajaan Minangkabau, antara lain : seekor Ayam Putih bernama Kinantan, seekor Kuda Putih bernama Gumarang dan seekor Kerbau Putih bernama Binuang.

C. Kompi – 06 Brimob Polda Sumbar
Sesuai Keputusan Menhankam / Pangab / No.Kep / A / 385 / VIII / 1970 tanggal 1 Agustus 1970, tentang Fungsi Brimob dan Keputusan Kapolri No.Pol. : Kep / 05 / III / 1972 tentang Refungsionisasi dan Reorganisasi Brimob Polri, maka Resimen Brimob Sumatera Tengah dilikuidasi dari kekuatan pers 3 (tiga) Batalyon, Kompi Recon dan Deplat 003 Sukarami Kabupaten Solok menjadi 2 (dua) Kompi yaitu ;
1. Kompi – 06 / BS untuk wilayah Polda Sumbar yang bermarkas di Padang Panjang dengan kekuatan 165 personil.
2. Kompi – 07 / BS untuk wilayah Polda Riau bermarkas di Sukajadi, Pekanbaru dengan kekuatan 165 personil.

Untuk Sat Brimobda Sumbar Kompi – 06 / BS dipusatkan di Padang Panjang pada masa itu dipimpin oleh Letda. Pol. Willem Luntungan. Kota ini merupakan sentralnya Sumatera Barat untuk memberikan perkuatan kepada kesatuan kewilayahan sesuai strategi Markas Pusat Brimob mengingat kuantitas maupun kualitas personil Brimob pada saat itu sangat kurang sekali.

Untuk meningkatkan kualitas kemampuan sesuai dengan perintah Markas Pusat Brimob, Sat Brimobda Sumbar melaksanakan Latihan Kemampuan Pelopor selama tiga bulan dilaksanakan di Dodiklat – 003 Padang Besi, dengan mendatangkan Instruktur dari Pusdik Brimob Watukosek dan Markas Brimob Pusat Kelapa Dua Jakarta. Situasi politik saat itu tidak menginginkan adanya Nama Latihan Pelopor. Untuk suksesnya latihan itu diganti namanya menjadi Latihan Penindakan Huru – hara ( Dhakura ) namun isi materi latihan tetap Kemampuan Pelopor dan akhirnya pelaksanaan latihan itu berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

D. Kompi – 5149 Brimob Polda Sumbar

Pada tahun 1978, Kompi – 06 / BS di rubah namanya menjadi Kompi – 5149 yang berkedudukan di Padang Panjang. Nama itu diambil dari Nama Kompi Brimob tertua yang berdiri tahun 1951, yang juga merupakan nomor urut ke – 49 dari kompi-kompi yang ada di Indonesia. Pada tahun 1978 inilah ditetapkan Sat Brimob Polda

Sumbar berada dibawah Direktorat Samapta. Kantornya pada waktu itu bergabung dengan Dit Samapta menempati bekas Kantor Resimen – VI tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman Padang ,yang cukup strategis (Gedung Bank Indonesia sekarang).

Berikut ini nama – nama Danki yang pernah menjabat di Sat Brimobda Sumbar setelah dilikuidasi :
1. Letda. Pol. W.L. Luntungan Tahun 1973 s/d 1976
2. Letda. Pol. Moh. Muin Edy Wihadi Tahun 1976 s/d 1979
3. Letda. Pol. Fajar Frihantoro Tahun 1979 s/d 1985
4. Letda. Pol. M.D. Damanik Tahun 1985 s/d 1986
5. Kapten. Pol. Drs. Amhar Azet Tahun 1986 s/d 1991
6. Letda. Pol. Fifti Nofris Tahun 1991 s/d 1994
7. Kapten. Pol. Drs. Budi Astono Tahun 1994 s/d 1995
8. Lettu. Pol. Gatot. Santoso Tahun 1995 s/d 1996
9. Lettu. Pol. M.Ridwan Tahun 1996 s/d 1997
Untuk mengikuti perkembangan Wilayah pada tahun 1986 maka Kompi – 5149 dipindahkan dari Kota Padang Panjang ke Wilayah Kota Padang. Tepatnya di Desa Padang Sarai Kecamatan Koto Tangah Kota Padang, yang kemudian menjadi Mako Sat Brimobda Sumbar. dan Padang Panjang hanya tinggal 1 Peleton BS.
E. Validasi Kompi Sat Brimob Polda Sumbar
Berdasarkan Keputusan Kapolri No.Pol. : Kep/11/XII/1997 tanggal 24 Desember 1997, tentang Pengesahan Satuan Brimob Polda, Sat Brimob Polda Sumbar divalidasi menjadi 3 Kompi, Brimob menjadi Satker Sendiri, Dansat Brimob langsung bertanggung jawab kepada Kapolda Sumbar dan tidak lagi dibawah Dit Samapta. Sesuai kebijaksanaan Polda Sumbar , Kompi – A dan B berkedudukan di Padang Sarai Kodya Padang sedangkan Kompi – C berkedudukan di Padang Panjang.
F. Validasi 2 Batalyon Sat Brimob Polda Sumbar
Pada tahun 2001 sesuai tuntutan reformasi berdasarkan Telegram Kapolri No.Pol. : TR / 411 / III / 2001 tanggal 15 Maret 2001, tentang pengembangan Brimob Polda dan Surat Telegram Dankorbrimob Polri No.Pol. : STR / 30 / III / 2001 tanggal 21 Maret 2001, tentang tindak lanjut pembentukan Batalyon / Kompi kerangka Brimob, Sat Brimob Polda Sumbar divalidasi menjadi 2 Batalyon kerangka yaitu ;
1. Batalyon A berkedudukan di Padang Sarai terdiri dari 3 kompi kerangka, yaitu : kompi 1,2 dan 3 dengan kekuatan 285 personil.
2. Batalyon B berkedudukan di Padang Panjang terdiri dari 3 kompi kerangka yaitu : Kompi 1,2 dan 3 dengan kekuatan 285 personil.

G. Likuidasi Sat Brimob Polda Sumbar dari 2 Batalyon menjadi Kompi-kompi Pelopor dan Unit Gegana
Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Kapolri No.Pol. : Skep / 54 / X / 2002 tanggal 17 Oktober 2002, tentang Organisasi dan tata kerja Polda, Sat Brimobda Sumbar menjadi Mako Sat, 4 Kompi Pelopor dan 1 unit Gegana yang terdiri dari :
1. Mako Sat, Kompi – 2 dan Kompi – 4 Pelopor serta Unit Gegana berkedudukan di Padang Sarai.
2. Kompi – 1 dan Kompi – 3 Pelopor berkedudukan di Padang Panjang.

H. Restrukturisasi Sat Brimob Polda Sumbar

Sesuai Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perkap) Nomor: 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada Tingkat Kepolisian Daerah, Pada tanggal 31 Januari 2011 sesuai Surat Perintah Kasat Brimob Polda Sumbar Nomor : Sprint / 89 / I / 2011 tanggal 27 Januari 2011 Tentang pengukuhan Jabatan Kaden – A, Kaden – B Pelopor dan Kaden Gegana Sat Brimob Polda Sumbar.
Sat Brimob Polda Sumbar menjadi Makosat, 2 Detasemen Pelopor dan 1 Detasemen Gegana, terdiri dari :

1. Mako Sat, Detasemen – A Pelopor dan Detasemen Gegana berkedudukan di Padang Sarai.
2. Detasemen – B Pelopor berkedudukan di Padang Panjang.

Pengukuhan para Kepala Detasemen (Kaden) dilaksanakan di Lapangan Mako Sat Brimob Polda Sumbar oleh Kasat Brimob Kombes. Pol. Nirboyo, SIK. Adapun para pejabat Kaden yang pertama dikukuhkan sebagai berikut:

1. Kaden – A Pelopor : AKBP. Tumpal Damayanus, SH
2. Kaden – B Pelopor : Kompol. H. Busral
3. Kaden Gegana : AKBP. Racmat Hendrawan, SIK

IV. Nama – Nama Pejabat Kasat Brimob Polda Sumbar :

1. AKP K.L. Panjaitan Tahun 1976 – 1979
2. Mayor Polisi Harjoko Tahun 1979 – 1986
3. Mayor Polisi W. L. Luntungan Tahun 1986
4. Mayor Polisi. Drs. Amir Hasanuddin Lubis Tahun 1988 – 1990
5. Mayor Polisi Drs. Beno J. C. Kilapong Tahun 1990 – 1993
6. Mayor Polisi Drs. Robby Kaligis Tahun 1993 – 1995
7. Mayor Polisi Dr. Syarief Gunawan Tahun 1995 – 1996
8. Pjs. Kapten Pol. Fifti Nofris Tahun 1996 – 1997
9. Letkol. Polisi Drs. Tatang Hermawan Tahun 1997 – 1999
10. Ass. Supt ( Mayor Polisi ) Drs. Eddy Kustoro Tahun 1999 – 2000
11. Senior Super Intendent Drs. Sukamso Tahun 2000 – 2001
12. Mayor Polisi Drs. Johni Soeroto Tahun 2001 – 2002
13. AKBP Drs. Moch. Badrus Tahun 2002 – 2003
14. AKBP Priyo Mujihad Tahun 2003
15. AKBP Prasetyo Wardhono Tahun 2003 – 2005
16. AKBP Drs. Sugeng Suprijanto, MM Tahun 2005 – 2007
17. AKBP Drs. Gatot Santoso Tahun 2007 – 2008
18. AKBP Drs. Rudy Harianto.MSi Tahun 2008 – 2010
19. AKBP Pradah Pinunjul, SIK Tahun 2010 – 2011
20. Kombes.Pol. Nirboyo, SIK Tahun 2011 – 2014
21. Kombes.Pol. Tumpal Damayanus, SH Tahun 2014 – 2018
22. Kombes.Pol. Djoko Pramono, S.I.K, M.H Tahun 2018 – Sekarang

V. Riwayat Penugasan Operasi Sat Brimobda Sumbar

Brimob Sumbar telah beberapa kali dipercaya oleh Negara melaksanakan tugas-tugas operasi antara lain :
1. Tahun 1962 s/d 1963, 1 SSK melaksanakan Operasi memadamkan Pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar di Makassar, dipimpin oleh LETKOL. POL. SUKARI.
2. Tahun 1977 s/d 1978, 1 SSK melaksanakan tugas Operasi Seroja di Timor – timor, dipimpin oleh LETDA. POL. MUIN WIHADI. Gugur dalam penugasan ini : BHARATU ANUMERTA M.ZAKIR dan BHARATU ANUMERTA BUDIMAN.
3. Tahun 1979 s/d 1980, 1 SSK melaksanakan Operasi Halilintar dalam rangka memberantas penyelundupan dan pengamanan pengungsi Vietnam di Tanjung Pinang, Pulau Galang – Kep.Riau dan Pulau Natuna dipimpin oleh LETDA POL FAJAR PRIHANTORO.
4. Tahun 1983 s/d 1984, 1 SSK melaksanakan tugas Operasi Seroja di Timor – timor dipimpin oleh LETTU POL FAJAR FRIHANTORO. Gugur dalam penugasan ini : SERTU NUR EFFENDI.
5. Tahun 1992, 1 SSK melaksanakan Operasi Jaring Merah di Provinsi D.I.Aceh dipimpin oleh LETDA. POL. FUADI MARTIN.
6. Tahun 1996, 1 SSK melaksanakan Operasi Kemanusiaan dalam rangka pemulangan pengungsi Vietnam dari Pulau Galang, Kep.Riau, dipimpin oleh LETTU. POL. GATOT SANTOSO.
7. Tahun 1998, 1 SSK melaksanakan tugas Pengamanan Sidang Umum MPR di Jakarta dipimpin oleh LETTU. POL. BUSRAL.

8. Tahun 1998, 1 SSK melaksanakan tugas Pengamanan Sidang Istimewa MPR, dipimpin oleh LETDA. POL. DASWIRMAN di Jakarta.
9. Tahun 1998, 1 SSK melaksanakan tugas Pengamanan Komplek Gedung MPR dipimpin oleh LETDA. POL. ASRIL SYAM di Jakarta
10. Tahun 1998, 1 SSK melaksanakan tugas BKO Polda Sumatera Utara dalam rangka Penanganan Rusuh Massa dipimpin oleh LETDA. POL. DASWIRMAN.
11. Tahun 1999, 1 SSK melaksanakan tugas pengamanan Presiden RI BJ Habibie di Banda Aceh dipimpin oleh LETDA. POL. DJASMAN DEBATARADJA.
12. Tahun 1999-2000, 1 Kompi melaksanakan Operasi Sadar Rencong – II dan III di Pidie dan Aceh Barat – NAD dipimpin oleh LETTU. POL. SYAFRI.S. Gugur dalam penugasan ini SERTU ANUMERTA WIDODO.
13. Tahun 2000, 1 SSK melaksanakan tugas Pengamanan Presiden RI Abdurahman Wahid (Gus Dur) di Pekan Baru Riau dipimpin oleh LETTU. POL. ASRIL SYAM.
14. Tahun 2000-2001, 1 kompi melaksanakan Operasi Sadar Rencong – III Aceh Selatan – NAD dipimpin oleh LETTU. POL. DASWIRMAN. Gugur dalam penugasan SERMA ANUMERTA SYAIR SYAM.
15. Tahun 2001, melaksanakan tugas pengamanan BKO Polda Riau dalam rangka Penanganan Rusuh Massa dipimpin oleh LETTU. POL. SYAFRI.S.
16. Tahun 2001, 1 Kompi melaksanakan tugas Operasi Cinta Meunasah – I di Aceh Selatan-NAD dipimpin oleh IPTU. BUSRAL.
17. Tahun 2001-2002, 1 Kompi melaksanakan tugas Operasi Cinta Meunasah – III di Aceh Barat – NAD dipimpin oleh IPTU. SYUFRIATMA. Gugur dalam penugasan ini BRIGADIR ANUMERTA KUSUMAYADI.
18. Tahun 2002, 1 Kompi melaksanakan tugas OperasiCinta Damai di Aceh Timur-NAD dipimpin oleh AKP. M.RIDWAN.
19. Tahun 2002-2003, 1 Kompi melaksanakan tugas Operasi Cinta Meunasah – II di Aceh Barat – NAD dipimpin oleh IPTU. ASRIL SYAM.
20. Tahun 2003, 1 Kompi melaksanakan tugas Operasi Darurat Militer di Aceh Timur – NAD, dipimpin oleh IPTU. DODIK AKHIRIANTO, SPd.
21. Tahun 2003-2004, 1 Kompi melaksanakan Operasi Penegakan Hukum Tegak Rencong – I di Aceh Besar – NAD dipimpin oleh IPTU. DJASMAN DEBATARADJA. Gugur dalam penugasan ini BHARAKA ANUMERTA ALEX MASRIADI.
22. Tahun 2004, 1 Kompi melaksanakan Operasi Penegakan Hukum Tegak Rencong – II di Aceh Besar – NAD dipimpin oleh IPTU. MARLIS.

23. Tahun 2004, 1 Kompi (penebalan) melaksanakan Operasi Penegakan Hukum Tegak Rencong – II di Aceh Pidie – NAD dipimpin oleh IPTU. KURNIAWAN TANDI RONGRE.
24. Tahun 2004-2005, 1 Kompi melaksanakan Operasi Penegakan Hukum Tegak Rencong – III di Aceh Besar – NAD, dipimpin oleh IPTU. FIRMANSYAH.
24. Tahun 2004-2005, 1 Kompi melaksanakan Operasi Penegakan Hukum Tegak Rencong – III di Aceh Besar – NAD, dipimpin oleh IPTU. FIRMANSYAH.
25. Tahun 2005, 1 Kompi melaksanakan Operasi Darurat Sipil di Aceh dipimpin oleh IPTU. SUPRATMAN.
26. Tahun 2005-2006, 1 Kompi melaksanakan Operasi Darurat Sipil di perbatasan Aceh – Polda Sumatera Utara Polres Tanah Karo dipimpin oleh IPTU. IRWAN YULI.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 2 Maret 2015 by in Sejarah and tagged .

Navigasi

%d blogger menyukai ini: